Responsiflah, Pak Presiden Prabowo

GERAKAN ‘Indonesia Gelap’ menunjukkan keresahan besar di kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil terhadap beberapa kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto yang baru saja menapak 100 hari kerja.

Tuntutan para demonstran, seperti kaji ulang efisiensi anggaran, transparansi pajak, dan penuntasan kasus hak asasi manusia (HAM), sudah diterima Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada aksi demo Kamis (20/2/2025). Namun, belum nampak respons dan tindakan konkret dari pemerintah.

Hari ini, Jumat (21/2/2025), menjadi masa krusial dan kritis. Ultimatum 2×24 jam dari ribuan demonstran mulai memasuki masa ‘jatuh tempo’. Apalagi, ancaman aksi lanjutan di depan Istana Negara menunjukkan eskalasi tekanan publik mulai menaik dengan keikutsertaan buruh dan masyarakat sipil.

Indikasinya naiknya eskalasi nampak dari mulai bergabungnya beberapa kelompok masyarakat pada aksi tersebut. Semisal, munculnya ‘bantuan’ berupa penyediaan ribuan konsumsi dan obat-obatan, termasuk ambulans kelompok masyarakat di beberapa lokasi demonstrasi.

Inti demonstrasi kali ini, rakyat ingin pemerintah mendengar suara mereka, menghentikan kebijakan yang tidak prioritas dan merugikan masyarakat. Muara akhir tuntutan mereka adalah membawa perubahan nyata menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Presiden Prabowo sebaiknya tidak menganggap remeh aksi rakyatnya dengan tagar ‘Indonesia Gelap’. Pemerintah perlu bersikap responsif pada tuntutan yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) itu.

Sikap sinis dan meremehkan beberapa ‘anak buah’ Presiden Prabowo terhadap aksi demonstrasi ribuan mahasiswa di seluruh Indonesia justru menurunkan menanggapi ‘gejolak hati’ rakyat.

Kalau pemerintah segera menindaklanjuti tuntutan para demonstran, misalnya membatalkan kebijakan pemotongan anggaran pendidikan atau membuka dialog terbuka, maka tekanan bisa mulai mereda. Responsifitas bisa menjadi langkah awal menuju perbaikan kepercayaan publik.

Tanpa respons memadai, apalagi jika aparat bertindak keras, ketegangan bisa meningkat. Unggahan-unggahan di beberapa platform sosial media, menunjukkan sentimen publik yang mulai beranjak panas.

Kondisi itu bisa membuat status ‘Indonesia Gelap’ lebih lama, yang rentan berdampak politik jadi kacau, ekonomi goyah akibat ketidakpastian, dan generasi muda makin pesimistis.

Baca Berita Terpopuler

Allahuakbar, Ucapan Terakhir Ustaz Yahya Waloni Meninggal di Mimbar Khotbah Jumat

Surabaya, MCI News – Pendakwah Yahya Waloni meninggal dunia saat...

Hukuman Mati Mantan Menteri Korupsi di China, Kampanye Antikorupsi Xi Jinping

China, MCI News – Tang Renjian, mantan Menteri Pertanian...

Google Doodle Hari Bumi Sedunia 22 April 2025

Surabaya, MCI News - Peringatan Hari Bumi selalu dilaksanakan tiap...

BRN Korda Jawa Timur Gelar Halal Bihalal, Perkuat Silaturahmi dan Tegaskan SOP Operasional

Blitar, MCI News – Ratusan anggota Buser Rent Car...

Fachry Albar Konsumsi Banyak Jenis Narkoba

Jakarta, MCI News - Aktor Fachry Albar menjalani tes urine...

Borussia Dortmund Menang 3-2 atas Villarreal

Dortmund, MCI News - Borussia Dortmund membuka kiprahnya dengan...

Khofifah Perkuat Kolaborasi Jawa Timur dan Kaltara Lewat UNAIR

Tarakan, MCI News - Ketua Umum Pengurus Pusat IKA...

Pemkot Probolinggo Evaluasi MBG, Dorong UMKM Lokal Daerah

Probolinggo, MCI News - Pemerintah Kota Probolinggo mengevaluasi pelaksanaan...

Pemusatan Latihan Atlet Malang Menuju Olahraga Provinsi Jawa Timur

Malang, MCI News - Bupati Malang M. Sanusi menghadiri...

Career Day Pasuruan Bekali Pelajar Siap Hadapi Dunia Kerja

Pasuruan, MCI News - Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas...

Haornas 2026, Kemenpora Dorong Gaya Hidup Aktif dan Bugar

Jakarta, MCI News - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora)...

DPR Desak Audit Total Kasus keracunan makanan MBG di Kabupaten Karo

Jakarta, MCI News - Anggota Komisi IX DPR RI...

Dua Unit Belum Selesai, Pembeli Gugat Pengembang Rp6,49 Miliar

Surabaya, MCI News - Tiga konsumen menggugat PT Trans...
spot_img

Baca Juga

Kanal Berita

spot_img