Jember, MCI News – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember menggelar tasyakuran sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi momentum membanggakan setelah BPBD Jember kembali dinobatkan sebagai juara umum lomba logistik dan peralatan BPBD se-Jawa Timur.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, penghargaan tersebut diberikan BPBD Provinsi Jawa Timur setelah Jember meraih sejumlah prestasi dalam perlombaan yang digelar antardaerah.
“Jember mendapatkan juara 1 untuk lomba manajemen pergudangan, juara 2 lomba marathon residence dan juara 4 untuk push dal off,” kata Edy, Rabu (12/08/2026). Malam.
Atas capaian tersebut, BPBD Jember berhak membawa pulang trofi bergilir juara umum. Menurut Edy, prestasi itu menjadi pencapaian yang membanggakan karena Jember berhasil mempertahankan gelar juara umum selama dua tahun berturut-turut.
“Kami mendapatkan predikat sebagai juara umum dan berhak untuk membawa pulang trofi bergilir yang sudah dua kali kita dapatkan. Tahun 2025 dan kembali pada 2026 mendapatkan juara umum,” ujarnya.
Edy menilai penghargaan tersebut bukan sekadar prestasi dalam perlombaan, tetapi juga menjadi suntikan motivasi bagi seluruh personel BPBD Jember untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebencanaan.
“Semangatnya, kami tidak hanya terbaik dalam lomba, tetapi juga terbaik dalam pelayanan. Ini tentu menjadi suntikan motivasi agar semakin semangat dan tangguh dalam melaksanakan antisipasi maupun penanganan bencana,” katanya.
Selain trofi, BPBD Jember juga berencana mendapatkan dukungan sarana operasional berupa mobil MCU dan mobil dapur. Sebelumnya, setelah meraih juara umum pada 2025, BPBD Jember mendapatkan satu unit mobil truk.
“Semoga ini menjadi berkah bagi kita. Tahun lalu kami mendapatkan hadiah satu buah mobil truk. Kalau sekarang rencananya kami mendapatkan mobil MCU dan mobil dapur,” tutur Edy.
Menurut dia, tambahan kendaraan tersebut akan memperkuat kapasitas BPBD dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat saat terjadi bencana.
Edy juga menyampaikan apresiasi kepada para relawan, baik yang tergabung secara langsung dalam kegiatan BPBD maupun relawan di luar institusi. Ia menyebut dukungan berbagai pihak, termasuk media massa, turut membantu BPBD dalam menjalankan tugas kebencanaan.
“Semua ini berkat dukungan para relawan. Termasuk rekan-rekan jurnalis yang selama ini juga tangguh membantu kami memberikan pemberitaan positif terkait kebencanaan,” katanya.
Di tengah capaian tersebut, BPBD Jember tetap meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana kekeringan. Hingga 12 Agustus 2026, tercatat tujuh kecamatan terdampak kekeringan dan enam di antaranya telah dilakukan asesmen serta penanganan.
Edy mengatakan, distribusi air bersih telah dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari. Di wilayah tersebut, kekeringan telah terjadi sejak 2 Juli 2026 dan BPBD telah mengirimkan truk tangki berkapasitas 5.000 liter sebanyak 20 kali.
Distribusi air juga dilakukan di Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat; Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo; Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari; Desa Panduman; serta Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari.
“Di Mulyorejo, Silo, ada sekitar 75 KK terdampak. Kami melakukan pengiriman air setiap dua hari sekali. Di Banjarsari baru sekali dan akan kami kirim setiap tiga hari. Di Panduman sudah tiga kali, ada sekitar 102 KK terdampak. Kemudian di Antirogo ada sekitar 50 KK yang juga harus kami bantu air,” jelasnya.
Terbaru, BPBD Jember menerima laporan kekeringan di Desa Kaliwining. Tim Reaksi Cepat (TRC) kemudian diterjunkan untuk melakukan asesmen di lapangan.
Hasil asesmen menunjukkan sumur warga mengalami penurunan debit air. Selain itu, air yang tersedia dilaporkan mulai berbau dan berubah warna menjadi kekuningan.
“Oleh karena itu, kami putuskan mulai hari ini akan mengirimkan dua tandon air setiap dua hari sekali, dengan kapasitas 2.400 liter, untuk sekitar 50 KK terdampak,” ungkap Edy.
BPBD Jember juga mengantisipasi kemungkinan musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang. Berdasarkan rilis BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi hingga Agustus, namun tidak menutup kemungkinan berlanjut hingga September.
“BPBD Jember bersama stakeholder dalam posko penanganan bencana kekeringan terus siap siaga. Sumber-sumber air sudah kami asesmen, kemudian tandon, tangki dan petugas kami siap terus memasok air sampai nanti tidak dibutuhkan lagi,” tegasnya.
BPBD mencatat terdapat enam lokasi sumber air yang digunakan untuk mendukung distribusi air bersih, yakni Garahan, Gantangan, JSG, Ibnu Katsir, SMK Balung dan PDAM. Menurut Edy, kualitas air dari sumber tersebut masih baik dan debitnya mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga.
Untuk mempercepat penanganan, BPBD juga membagi tugas distribusi air bersama sejumlah lembaga dan instansi terkait.
“Kami membuat grup tersendiri. Misalnya PMI menangani distribusi air di Pakusari dan Jelbuk, PDAM di Bangsalsari, sedangkan BPBD di Silo. Ini menggunakan anggaran masing-masing,” katanya.
Edy mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Kebutuhan air untuk konsumsi sehari-hari harus menjadi prioritas.
“Kami mengajak dan mengimbau agar bijak menggunakan air, jangan boros. Utamakan untuk konsumsi, makan, memasak dan minum. Setelah itu mandi, baru untuk keperluan lain seperti menyiram,” ujarnya.
BPBD Jember juga telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur untuk mengantisipasi apabila kebutuhan air bersih meningkat dan kemampuan daerah mulai kewalahan.(fifi)


