Jakarta, MCI News – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meski tren penanganan sepanjang Agustus 2026 menunjukkan perbaikan di sejumlah wilayah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meminta seluruh pihak memperkuat koordinasi karena fenomena cuaca ekstrem El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada September, Jakarta, Selasa (01/09/2026) seperti yang dikutip di website kemenhut.
Pemerintah menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran di wilayah yang mengalami cuaca kering. Karena itu, Kemenhut mempertahankan langkah pencegahan dan pemadaman secara terpadu dengan melibatkan sejumlah instansi serta unsur masyarakat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, perbaikan penanganan karhutla sepanjang Agustus tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat menurunkan kewaspadaan. Pemerintah justru menjadikan September sebagai periode penting untuk memperkuat kesiapan menghadapi potensi peningkatan kebakaran.
“Hasil evaluasi sepanjang Agustus menunjukkan tren penanganan yang membaik di sejumlah wilayah. Namun, ini bukan alasan untuk berpuas diri. Bulan September adalah fase krusial bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan penuh dan memperkuat koordinasi pemadaman,” ujar Menhut Raja Antoni saat memberikan keterangan pers di Jakarta.
Dalam keterangannya, Raja Antoni menjelaskan bahwa pemerintah menjalankan lima strategi utama dalam menangani karhutla. Strategi tersebut mencakup modifikasi cuaca, pemadaman dari udara, penguatan pasukan darat, penegakan hukum, serta peningkatan edukasi dan partisipasi masyarakat.
Melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Kemenhut bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Operasi tersebut menyasar enam provinsi prioritas dengan tujuan meningkatkan potensi hujan dan menjaga kelembapan tanah.
Pemerintah juga mengerahkan 53 armada udara untuk menjalankan patroli dan pemadaman melalui metode waterbombing. Armada tersebut menyasar titik api yang berada di lokasi sulit dijangkau pasukan darat.
Di tingkat lapangan, Kemenhut memperkuat Satgas Darat dengan melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Personel gabungan melakukan pemadaman sekaligus mengisolasi sumber api agar tidak meluas ke area lain.
Selain mengandalkan pemadaman, pemerintah menjalankan penegakan hukum terhadap pihak yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan. Kemenhut mencatat 89 tersangka telah ditangani pihak kepolisian, sementara Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut juga menangani sejumlah perkara pidana serta melakukan evaluasi terhadap perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).
Pemerintah turut menempatkan edukasi masyarakat sebagai bagian dari pencegahan. Kemenhut mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan atau land clearing, termasuk menghindari tindakan lalai seperti membuang puntung rokok di kawasan yang kering.
Untuk mendukung keterbukaan informasi, Kemenhut menggunakan sistem pemantauan digital Sipongi. Platform berbasis satelit tersebut beroperasi selama 24 jam dan memungkinkan masyarakat serta media memantau informasi hotspot dan pergerakan angin secara real-time.
Raja Antoni juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas arahan dalam penanganan karhutla. Menurut dia, penanganan bencana tersebut membutuhkan koordinasi antara kementerian, TNI, Polri, pemerintah daerah, media, serta masyarakat.
“Upaya pencegahan karhutla adalah kerja bersama. Dengan kolaborasi teknis, penegakan hukum yang adil, serta kesadaran masyarakat yang makin tinggi, kita optimistis dapat melewati periode rawan ini dengan baik,” tutup Menhut Raja Antoni.


