Batam, MCI News – Bareskrim Polri memburu pihak yang diduga mengendalikan jaringan internasional penyelundupan narkotika melalui jalur laut di Kepulauan Riau. Pengusutan tersebut terus berkembang setelah aparat menggagalkan sejumlah pengiriman narkotika dalam beberapa pekan terakhir, yang sekaligus membuka dugaan keterkaitan antarperkara.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso mengatakan, penyidikan terhadap jaringan narkotika di wilayah perairan Kepri berlangsung secara berkelanjutan. Informasi dari pengungkapan sebelumnya menjadi bahan bagi penyidik untuk memetakan jaringan dan menentukan langkah penindakan berikutnya.
Eko menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan di Batam pada Selasa (01/09/2026) seperti yang dikutip di website humas.polri.go.id. Menurut dia, penyidik terus mengolah informasi untuk menemukan pihak yang memiliki peran lebih besar dalam rangkaian penyelundupan narkotika melalui jalur laut.
“Prinsip penyelidikan adalah prinsip yang berkelanjutan. Jadi apa yang kita temukan hari ini juga merupakan hasil pengolahan data dan penyelidikan yang dilakukan jauh hari sebelumnya. Demikian juga nanti hasil pendalaman menjadi cara menentukan penyelidikan berikutnya,” kata Eko di Batam.
Dalam satu bulan terakhir, aparat menggagalkan beberapa pengiriman narkotika yang masuk melalui perairan Kepri. Kasus tersebut mencakup penyitaan 1,3 ton ketamin dari kapal MV King Sun, 2,6 ton sabu cair dari MV Ocean Porter, serta 800 kilogram ketamin dari kapal Fu Chang Xing I.
Bareskrim kini mendalami kemungkinan hubungan antara sejumlah pengungkapan tersebut. Penyidik juga berupaya memetakan struktur jaringan, termasuk pihak yang diduga mengatur pengiriman narkotika dari luar wilayah Indonesia.
Eko mengatakan indikasi keterlibatan jaringan internasional terlihat dari pergerakan kapal dan awak kapal yang bersinggungan dengan wilayah perairan internasional. Kondisi itu membuat aparat Indonesia perlu berkoordinasi dengan penegak hukum dari negara lain untuk menelusuri aktor yang berada di luar negeri.
“Untuk aktor dalam kasus penyelundupan ini ada, tapi tidak berada di negara kita. Masih diolah oleh beberapa counterpart kita yang berada di luar negeri, baik itu di Malaysia, Singapura, China dan lain-lain,” ujarnya.
Bareskrim Polri telah melakukan kerja sama bilateral dengan sejumlah negara untuk mendukung pertukaran informasi. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya penyidik mengidentifikasi pihak yang diduga mengendalikan jaringan penyelundupan dari luar Indonesia.
Selain mengejar pengendali, polisi juga memeriksa pola pergerakan kapal asing yang memasuki wilayah hukum Indonesia. Penyidik masih mendalami apakah Indonesia menjadi tujuan akhir pengiriman atau hanya menjadi jalur transit sebelum narkotika dikirim ke wilayah lain.
“Kita belum bisa berhipotesa. Selama itu masuk wilayah hukum Indonesia, kita melakukan penindakan. Terkadang ada yang hanya lewat, terkadang ada tujuan,” kata Eko.
Menurut Eko, jaringan penyelundupan narkotika juga menggunakan pola komunikasi yang membuat instruksi kepada pelaku lapangan sulit dilacak. Pengendalian dapat berlangsung secara bertahap ketika kapal berada dalam perjalanan.
“Kadang mereka dikendalikan, terputus, menunggu kira-kira lima menit. Ke mana harus mereka meluncur, ke mana mereka harus komunikasi, siapa yang akan menemui mereka dan lain-lain,” jelasnya.
Untuk membongkar pola tersebut, penyidik memadukan informasi lapangan, human intelligence, teknologi intelijen, serta pertukaran data dengan aparat penegak hukum negara lain. Pendekatan tersebut digunakan untuk menghubungkan informasi dari berbagai kasus dan menemukan pola jaringan yang lebih luas.
Eko juga membenarkan adanya korelasi dalam proses pendalaman sejumlah kasus penyelundupan narkotika yang terungkap dalam beberapa pekan terakhir. Namun, penyidik masih memerlukan proses lebih lanjut untuk memastikan hubungan antarperkara dan menentukan peran masing-masing pihak.
“Kalau kita lakukan pendalaman terus ke depan dan ada kemungkinan untuk kita melakukan intercept, akan kita lakukan,” tegasnya.
Penyidikan masih berlangsung dengan sasaran tidak hanya pelaku yang berada di lapangan. Bareskrim juga mengarahkan pengusutan kepada pihak yang diduga menjadi pengendali utama jaringan dari luar negeri, sementara pengamanan jalur laut Kepri terus menjadi bagian penting dalam upaya mencegah masuknya narkotika ke wilayah Indonesia.


