Jakarta, MCI News – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan strategi penguatan komoditas pertanian pada 2027 untuk mempertahankan capaian swasembada pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Komisi IV DPR RI telah menyetujui pagu anggaran Kementan sebesar Rp28,02 triliun, dengan sekitar Rp16,6 triliun diarahkan untuk padi, komoditas larangan dan pembatasan (lartas), hortikultura, serta hilirisasi perkebunan dan peternakan, pada Selasa (01/09/2026) seperti yang dikutip di website kementan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah akan menjalankan penguatan komoditas secara bertahap agar penggunaan anggaran lebih terarah. Pemerintah akan mempertahankan komoditas yang telah mencapai swasembada sambil meningkatkan produksi komoditas yang masih membutuhkan pasokan dari luar negeri.
“Ini tidak bisa sekaligus. Jadi kita selesaikan satu-satu, nggak bisa sekaligus. Karena kalau kita anggaran ini dibagi rata itu biasanya tidak ada yang jadi,” kata Mentan Amran usai Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (1/9).
Kementan mencatat delapan komoditas strategis telah mencapai swasembada. Komoditas tersebut mencakup beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Secara agregat, produksi delapan komoditas itu diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton. Angka tersebut berada di atas kebutuhan nasional yang mencapai 68,22 juta ton sehingga terdapat surplus sekitar 4,69 juta ton.
Capaian tersebut menjadi dasar pemerintah untuk menjaga produksi sekaligus memperluas penguatan pada komoditas yang belum sepenuhnya mandiri. Salah satu komoditas yang mendapat perhatian adalah bawang putih karena produksi dalam negeri masih perlu ditingkatkan.
Untuk sektor padi, Kementan menyiapkan anggaran sekitar Rp9,6 triliun pada 2027. Dana tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas hingga 10–12 ton per hektare sekaligus menjaga keberlanjutan swasembada beras.
Kementan juga menyiapkan sekitar Rp1,9 triliun untuk komoditas lartas, termasuk jagung, kedelai, dan ubi kayu. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi komoditas tersebut agar kebutuhan dalam negeri semakin banyak dipenuhi dari produksi nasional.
Sektor hortikultura memperoleh perhatian lebih besar pada 2027. Sekitar Rp2 triliun disiapkan untuk pengembangan bawang putih, cabai, bawang merah, serta program Pekarangan Pangan Bergizi.
Khusus bawang putih, pemerintah menargetkan produksi mencapai 40,63 ribu ton pada 2027. Mentan Amran mengatakan peningkatan anggaran hortikultura menjadi bagian dari penguatan sektor yang sebelumnya belum memperoleh porsi sebesar pangan, perkebunan, dan peternakan.
“Memang fokusnya kemarin adalah perkebunan, peternakan, pangan, ini positif semua. Ini tidak bisa sekaligus, tahun ini kita anggarkan dua kali lipat lebih. Itu untuk hortikultura tahun 2027,” ujarnya.
Amran menilai pendekatan bertahap mulai menunjukkan hasil pada sejumlah sektor. Pemerintah kemudian dapat mengalihkan perhatian pada komoditas yang masih menjadi pekerjaan rumah.
“Sekarang pangan alhamdulillah sudah swasembada beras, kemudian ayam bahkan surplus, bahkan harganya turun kemarin tetapi sekarang sudah di atas harga pembelian pemerintah. Kemudian perkebunan tadi naik melonjak tajam. Nah tinggal satu kan PR kita. Ini insya Allah satu-satu,” ungkapnya.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah menyiapkan infrastruktur pascapanen untuk mengantisipasi kelebihan pasokan saat musim panen. Langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah penurunan harga yang dapat merugikan petani.
“Ini butuh solusi permanen, cold storage sayur-sayuran, cabai, bawang merah, apa segala macam,” katanya.
Pada subsektor perkebunan, Kementan merancang anggaran sekitar Rp2,3 triliun untuk pengembangan kelapa, kakao, kopi, pala, lada, dan tebu. Pemerintah mengarahkan kebijakan tersebut tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat hilirisasi dan nilai tambah hasil perkebunan.


