Jakarta, MCI News – Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama ekonomi, investasi, pendidikan, energi, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia dalam momentum 74 tahun hubungan diplomatik kedua negara di Jakarta, Jumat (02/10/2026) seperti yang di kutip di website kemenko. Pemerintah mendorong hubungan bilateral tersebut menghasilkan kerja sama yang lebih konkret bagi dunia usaha dan perekonomian kedua negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal tersebut saat memberikan Congratulatory Remarks dalam peringatan German Unity Day 2026. Ia menyebut hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade dan akan memasuki usia 75 tahun pada 2027.
“Bagi Indonesia, momen ini menjadi pengingat yang bermakna akan kemitraan kita yang telah terjalin lama dan terus berkembang. Tahun ini menandai 74 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jerman, dan tahun depan kita akan memperingati hari jadi ke-75 hubungan bilateral kita,” ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, 2026 menjadi periode penting bagi hubungan kedua negara karena sejumlah agenda tingkat tinggi turut memperkuat kemitraan bilateral. Salah satunya kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Indonesia pada Juni 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Indonesia dan Jerman kembali membahas penguatan kerja sama ekonomi, investasi, transisi energi, pendidikan, dan ketenagakerjaan. Kedua negara juga terus menggunakan berbagai mekanisme bilateral untuk mengembangkan hubungan ekonomi dan industri.
Kerja sama ekonomi mencakup Joint Economic and Investment Committee, pengembangan industri hijau, investasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Indonesia juga melihat peluang kerja sama dengan Jerman dalam sektor energi terbarukan, infrastruktur kelistrikan, kendaraan listrik dan baterai, semikonduktor, infrastruktur digital, serta pembiayaan berkelanjutan.
Dalam sektor transisi energi, Jerman bersama Jepang menjadi co-lead International Partners Group dalam kerangka Just Energy Transition Partnership (JETP). Kerangka tersebut menjadi salah satu mekanisme yang berkaitan dengan upaya mendorong investasi dan pembiayaan transisi energi bersih di Indonesia.
Peluang kerja sama juga terbuka pada pendidikan vokasi dan pengembangan keterampilan tenaga kerja. Pemerintah melihat peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari hubungan ekonomi yang dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan tenaga kerja terampil.
Dari sisi perdagangan, hubungan ekonomi kedua negara memiliki nilai yang cukup besar. Data yang disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Jerman mencapai sekitar USD6,11 miliar pada 2025. Lebih dari 250 perusahaan multinasional asal Jerman juga telah beroperasi di Indonesia.
Ke depan, pemerintah mengidentifikasi sejumlah sektor yang dapat dikembangkan melalui kerja sama bilateral. Bidang tersebut meliputi industri dan infrastruktur, perdagangan dan investasi, energi, transformasi digital, kesehatan, life sciences, serta pengembangan sumber daya manusia.
Airlangga juga menyoroti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Pemerintah memandang perjanjian tersebut dapat memperluas akses pasar, meningkatkan perdagangan dan investasi, serta memperkuat keterlibatan pelaku usaha Indonesia dengan pasar Uni Eropa, termasuk Jerman.
Pemerintah sebelumnya menyatakan proses IEU-CEPA telah memasuki tahap akhir menuju penandatanganan dan ratifikasi. Pemerintah menargetkan implementasi kesepakatan tersebut dapat dimulai pada awal 2027 setelah proses penandatanganan dan ratifikasi selesai.
“CEPA menciptakan akses pasar, serta perdagangan, dan keterlibatan bisnis yang lebih kuat antara Indonesia dan Uni Eropa. Tentu kita berharap ini juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha Jerman maupun investasi (dari) Jerman,” pungkas Airlangga.
Penguatan hubungan Indonesia-Jerman selanjutnya akan bergantung pada pelaksanaan berbagai agenda kerja sama yang telah dibahas. Pemerintah menempatkan mekanisme bilateral seperti Indonesia–Germany Joint Economic Commission (JEIC) dan JETP sebagai jalur untuk menerjemahkan hubungan diplomatik yang telah berlangsung 74 tahun menjadi kegiatan ekonomi, investasi, energi, dan pengembangan sumber daya manusia yang lebih konkret.


